Sinergi Dispar Sumbar dan BMKG: Siapkan Pelaku Wisata Hadapi Risiko Cuaca Melalui Era Predictive Travel

PADANG – Langkah taktis untuk memperkuat kapasitas dan kesiapsiagaan Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata Sumatera Barat dalam menghadapi dinamika cuaca terus digulirkan. Melalui program Tugas Pembantuan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026, Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat menggelar “Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata” dengan tema “Wisata Perkotaan”. Sesi pelatihan khusus ini diselenggarakan pada Senin, 27 Juli 2026, bertempat di Pangeran Beach Hotel, Padang.

Hadir sebagai narasumber utama, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau – Padang Pariaman, Dr. Decky Irmawan, S.E, M.Kom, yang memaparkan materi bertajuk “Memahami Informasi Cuaca untuk Mendukung Pariwisata”. Jalannya pelatihan berlangsung sangat interaktif dan dipenuhi antusiasme tinggi dari puluhan peserta yang terdiri dari berbagai elemen penentu industri pariwisata daerah.


Menekan Risiko Melalui Pendekatan Prediktif

Dalam sesi pembekalan yang berlangsung selama 4 Jam Pelajaran (JP) tersebut, Dr. Decky mengajak para pelaku pariwisata untuk mengubah cara pandang dalam mengelola operasional perjalanan. Ia mendorong transisi besar dari pola lama yang bersifat pasrah terhadap cuaca (reactive travel) menjadi manajemen perjalanan terencana berbasis keakuratan data (predictive travel).

“Kita tidak memiliki kendali untuk menghentikan fenomena cuaca ekstrem di atmosfer. Namun, pengelola destinasi dan operator wisata memegang kendali penuh untuk menekan potensi risiko hingga ke tingkat minimum (zero accident) dengan cara membatasi keterpaparan (exposure) wisatawan serta menekan faktor kerentanan (vulnerability) fisik maupun sistem di lokasi wisata,” jelas Dr. Decky di hadapan para peserta.

Para peserta yang meliputi unsur Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengelola desa wisata, pengelola acara (event organizer), Tour Operator, hingga Tour Guide dibekali pemahaman mengenai ambang batas parameter cuaca ekstrem berdasarkan Peraturan BMKG No. 9 Tahun 2022:

  • Hujan Lebat & Ekstrem: Intensitas mencapai lebih dari 50 mm per hari yang berpotensi memicu jenuhnya tanah di kawasan lereng curam.
  • Angin Kencang: Kecepatan tiupan mencapai atau melebihi 25 knot (45 km/jam) yang dapat mengancam kekuatan pepohonan pelindung serta baliho di ruang publik.
  • Jarak Pandang Ekstrem (Visibility): Penurunan jarak pandang mendatar hingga di bawah 1.000 meter akibat kabut tebal.

Simulasi Teknologi Radar dan Komunikasi Taktis

Suasana pelatihan semakin dinamis saat Dr. Decky memandu langsung simulasi pemanfaatan aplikasi InfoBMKG. Peserta diajarkan cara membaca Radar Cuaca untuk memantau pergerakan awan hujan secara near real-time dengan jeda waktu hanya 5–10 menit. Deteksi ini memiliki presisi spasial tinggi hingga tingkat kecamatan, sehingga operator dapat mengetahui kondisi cuaca yang sedang terjadi tepat di atas destinasi mereka.

Melalui pelaksanaan pelatihan ini, BMKG mengharapkan para pelaku industri pariwisata Sumatera Barat memiliki pemahaman yang lebih solid dan terpadu dalam memanfaatkan data meteorologi sebagai instrumen perlindungan operasional harian guna mewujudkan kawasan wisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Scroll to Top